Pastor Pius: Jangan Pernah Berkompromi dengan Kejahatan

Pastor Pius: Jangan Pernah Berkompromi dengan Kejahatan

Spread the love

http://voicepost.id.wp⁠ | Lauran, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Senin, 13 Juli 2026 – Di tengah kehidupan yang semakin sarat dengan berbagai tantangan moral dan godaan untuk berkompromi terhadap nilai-nilai kebenaran, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak umat Kristiani untuk kembali merenungkan makna sejati menjadi pengikut Yesus Kristus.

Bagi Pastor Pius, mengikut Kristus bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan sebuah panggilan untuk hidup dengan keberanian, kesetiaan, dan komitmen penuh terhadap kebenaran.

Pesan tersebut disampaikan Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, dalam wawancara yang berlangsung di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, pada Senin (13/7/2026).

Renungan itu merujuk pada Injil Matius 10:34–11:1 yang mengisahkan sabda Yesus, “Aku datang bukan membawa damai, melainkan pedang.”

Iman Menuntut Keputusan yang Tegas
Menurut Pastor Pius, sabda Yesus tersebut bukanlah ajakan untuk menciptakan pertentangan, melainkan panggilan agar setiap orang berani mengambil keputusan yang tegas dalam kehidupan beriman.

Mengikuti Kristus berarti menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama di atas segala kepentingan duniawi.

“Yesus menuntut kita mengambil keputusan radikal dalam hal beriman. Bila kita sungguh mengasihi-Nya, maka Dia menjadi prioritas di atas ikatan keluarga, materi, jabatan, dan lain-lain,” ujar Pastor Pius.

Ia menegaskan bahwa kasih kepada Kristus harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui kesetiaan menjalankan kehendak Allah, sekalipun harus menghadapi konsekuensi yang tidak mudah.

Kesetiaan kepada Kristus Selalu Memiliki Harga
Pastor Pius menjelaskan bahwa setiap pengikut Kristus dipanggil untuk memikul salib sebagaimana Yesus sendiri telah melakukannya. Salib itu dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari penolakan, fitnah, perlakuan tidak adil, hingga hambatan dalam perjalanan hidup dan karier.

Namun demikian, menurutnya, penderitaan tersebut bukan alasan untuk meninggalkan iman, melainkan kesempatan untuk semakin bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan.

“Memilih mengikuti Yesus berarti setia memikul salib, berjalan bersama-Nya, setia hidup dalam kebenaran dan berbuat baik. Salibnya, kita ditolak, dibenci, difitnah, karier dihambat, dan lain-lain,” katanya.

Kebenaran Menjadi Pembeda di Tengah Dunia
Lebih jauh Pastor Pius mengatakan bahwa hidup dalam kebenaran sering kali membuat seorang pengikut Kristus tampil berbeda di tengah lingkungan yang telah terbiasa dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai Injil.

Menurutnya, kehadiran orang yang hidup benar dapat menjadi pengingat bagi mereka yang memilih jalan kejahatan. Karena itu, kebenaran acap kali dipandang sebagai ancaman oleh pihak-pihak yang merasa terusik.

“Bila kita setia hidup dalam kebenaran seperti Kristus, maka kehadiran kita menjadi pembeda bahkan ancaman bagi mereka yang hidup mapan dalam kejahatan. Kebenaran yang dihadirkan Kristus ibarat pedang yang memisahkan kebaikan dan kejahatan,” tuturnya.

Tidak Ada Ruang untuk Berkompromi dengan Kejahatan
Dalam pesannya, Pastor Pius mengingatkan bahwa seorang murid Kristus tidak boleh membangun kompromi dengan segala bentuk kejahatan, sekalipun hal tersebut tampak menguntungkan secara duniawi.

Kesetiaan kepada Kristus, menurutnya, harus diwujudkan melalui kehidupan yang jujur, adil, dan konsisten dalam melakukan kebaikan.

Ia menegaskan bahwa panggilan menjadi pengikut Yesus bukanlah jalan yang mudah, tetapi merupakan jalan menuju keselamatan yang dijanjikan Allah.

“Jangan kompromi dengan kejahatan. Pengikut Yesus harus setia hidup dalam kebenaran. Setia ikut Yesus, keselamatan milikmu,” tegas Pastor Pius Heljanan, MSC.

Menjadi Garam dan Terang bagi Dunia
Di akhir refleksinya, Pastor Pius mengajak umat Katolik dan seluruh umat Kristiani untuk tidak takut menghadapi tantangan zaman. Ia berharap setiap orang percaya mampu menjadi saksi Kristus yang menghadirkan kasih, kejujuran, keadilan, dan pengharapan di tengah masyarakat.

Menurutnya, ketika kebenaran tetap dijaga dan iman terus dipelihara, kehadiran umat beriman akan menjadi kekuatan moral yang membawa terang bagi sesama, sekaligus menjadi wujud nyata kesetiaan kepada Kristus yang telah lebih dahulu mengorbankan diri demi keselamatan umat manusia.(rls:jk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *