http://voicepost.id.wp | Desa Tedeng, Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara | Senin, 13 Juli 2026 – Perjalanan panjang seorang imam tidak diukur semata oleh hitungan tahun pelayanan, tetapi oleh kesetiaan yang terus dijaga di tengah berbagai dinamika kehidupan. Momentum syukur 29 tahun Imamat RD Alo Matruti dan RD Skia Mangsombe bersama para imam lainnya menjadi ruang refleksi yang mendalam tentang makna panggilan, pengabdian, dan kasih yang terus bersemi dalam pelayanan Gereja.
Di tengah suasana penuh sukacita tersebut, RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, mengajak umat memandang perjalanan imamat sebagai anugerah Allah yang hanya dapat dijalani melalui kesetiaan kepada Kristus dan pelayanan tanpa pamrih kepada sesama.
Panggilan yang Berasal dari Tuhan
Mengawali refleksinya, RD Ponsianus Ongirwalu mengingatkan bahwa panggilan menjadi imam bukanlah pilihan manusia semata, melainkan kehendak Allah yang mengutus seseorang untuk melayani umat-Nya.
Ia mengutip sabda Yesus dalam Injil Yohanes: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”
Menurutnya, sabda tersebut menjadi fondasi seluruh perjalanan hidup seorang imam. Selama 29 tahun perjalanan imamat yang dirayakan, para imam tetap berdiri teguh bukan karena kemampuan pribadi, tetapi karena penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti.
“Hari ini kami berdiri bukan karena kekuatan kami sendiri, melainkan karena rahmat dan penyertaan-Nya yang tidak pernah sedetik pun meninggalkan kami,” ungkapnya.
29 Tahun Menabur Benih Kasih
Perjalanan hampir tiga dekade itu diwarnai berbagai pengalaman pelayanan, mulai dari sukacita, tantangan, air mata, hingga kebahagiaan bersama umat.
Bagi para imam, setiap perjumpaan dengan umat merupakan kesempatan untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kesetiaan tersebut terus bertumbuh karena adanya dukungan doa, persaudaraan, dan kebersamaan seluruh umat Allah.
“Terima kasih kepada seluruh umat yang telah menjadi perpanjangan tangan Tuhan, yang senantiasa menopang kami dalam doa, dan berjalan bersama kami untuk mewujudkan Kerajaan Allah di bumi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tugas pelayanan belum selesai. Sebaliknya, perjalanan itu masih akan terus berlanjut sebagai wujud panggilan untuk melayani hingga akhir hayat.
Kerinduan yang Terobati Setelah 16 Tahun
Momentum syukur itu juga menjadi sangat emosional bagi RD Ponsianus Ongirwalu. Setelah 16 tahun meninggalkan Jailolo, ia akhirnya kembali menginjakkan kaki di Paroki Santo Petrus Paulus Tedeng, tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan pelayanannya pada 2007–2010.
Dengan suara penuh haru, ia menyampaikan ungkapan yang sederhana namun sarat makna. “Rumah selalu tahu jalan pulang.”
Baginya, enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun jarak dan waktu ternyata tidak mampu memutuskan ikatan kasih yang telah dibangun bersama umat.
“Enam belas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk memendam rindu. Ketika kaki ini kembali menginjakkan tanah Jailolo, memori masa-masa pelayanan kembali menari dengan indah di kepala,” tuturnya.
Ia mengaku terharu melihat wajah-wajah umat yang tetap menyimpan ketulusan dan semangat iman sebagaimana yang dikenangnya dahulu.
“Enam belas tahun berpisah secara fisik, namun ikatan doa dan persaudaraan di dalam Kristus terbukti tidak pernah putus,” tambahnya.
Kehangatan Umat Menjadi Penguat Pelayanan
Kehadiran kembali RD Ponsianus Ongirwalu disambut hangat oleh umat Paroki Santo Petrus Paulus Tedeng.
Baginya, sambutan tersebut bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan bukti bahwa hubungan antara gembala dan umat selalu dipelihara oleh kasih Kristus.
Ia juga merasa bersyukur dapat berdiri bersama RD Alo Matruti dan RD Skia Mangsombe yang sedang merayakan HUT Imamat ke-29.
“Berdiri di sini bersama rekan-rekan imam adalah sebuah anugerah yang menguatkan kembali komitmen panggilan kita bersama,” ujarnya.
Umat Mendoakan Para Gembala
Dalam kesempatan yang sama, umat Paroki Santo Petrus Paulus Tedeng menyampaikan rasa syukur atas kesetiaan para imam yang selama puluhan tahun telah mendampingi perjalanan iman mereka.
Menurut umat, para imam bukan hanya pelayan altar, tetapi juga gembala yang hadir dalam setiap suka dan duka kehidupan.
“Hari ini hati kami membubung penuh rasa syukur. Dua puluh sembilan tahun kesetiaan para imam adalah bukti nyata kasih Allah yang hidup di tengah-tengah kami,” ungkap perwakilan umat.
Mereka berharap Tuhan terus memberikan kesehatan, hikmat, dan sukacita kepada seluruh imam agar tetap setia menjalankan panggilan suci.
“Semoga Tuhan Yesus Sang Gembala Agung senantiasa memberikan kesehatan, kebijaksanaan, dan sukacita yang melimpah kepada RD Alo Matruti, RD Skia Mangsombe, dan RD Ponsianus Ongirwalu dalam setiap langkah pelayanan ke depan. Kami siap berjalan bersama demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar,” demikian doa umat.
Kesetiaan Menjadi Warisan Pelayanan
Perayaan syukur 29 tahun imamat di Paroki Santo Petrus Paulus Tedeng bukan sekadar mengenang perjalanan panjang para imam, tetapi juga menjadi pengingat bahwa panggilan Tuhan selalu menuntut kesetiaan yang terus diperbarui.
Melalui refleksi RD Ponsianus Ongirwalu, umat diajak memahami bahwa perjalanan pelayanan tidak pernah berhenti pada pencapaian masa lalu. Sebaliknya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk menabur benih kasih, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan Kristus di tengah kehidupan umat.
Sebagaimana ungkapannya yang paling membekas dalam perayaan tersebut, “Rumah selalu tahu jalan pulang,” demikian pula hati seorang gembala akan selalu menemukan jalannya kembali kepada umat yang dilayaninya, karena kasih Kristus tidak pernah dibatasi oleh ruang maupun waktu.(rls:jk)
