voicepost.id/wp | Saumlaki, Selasa, 18 Agustus 2026 – Di tengah kehidupan yang sering menempatkan harta, kekuasaan, jabatan, serta gelar sebagai ukuran keberhasilan, refleksi rohani Pastor Pius Heljanan, MSC, mengajak umat untuk kembali melihat apa yang sesungguhnya menjadi jaminan keselamatan manusia.
Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, itu menegaskan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia pada akhirnya bukanlah jaminan kehidupan kekal.
Pesan tersebut bertolak dari sabda Yesus: “Setiap org yg melepaskan segalanya dan mengikuti Aku akan memperoleh hidup kekal.”
Jangan Menjadikan Harta sebagai Tuhan
Dalam refleksinya, Pastor Pius mengingatkan agar manusia tidak membiarkan kekayaan menguasai hati hingga melupakan Allah sebagai sumber segala sesuatu.
“Saudaraku, jgan menjadikan harta/kekayaan menjadi tuhan yg menguasai hatimu, sehingga melupakan Allah Sang pemberi segalanya dlm hidup,” tulis Pastor Pius.
Menurutnya, harta, kekuasaan, pangkat maupun gelar memang dapat menjadi bagian dari kehidupan manusia. Namun, semuanya memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan pertanyaan mengenai keselamatan.
“Sadarilah, harta, kekuasaan, pangkat/gelar tdk menjamin keselamatan. Penjamin keselamatan kekal adalah Yesus.”
Mengandalkan Yesus dalam Kehidupan
Karena itu, umat diajak untuk tidak menggantungkan seluruh harapan hidup pada sesuatu yang bersifat duniawi. Bagi Pastor Pius, Yesus harus tetap menjadi pusat kehidupan dan sumber pengharapan manusia.
“Andalkan Yesus dlm hidupmu, percaya padaNya, ikuti firmanNya.”
Pesan tersebut tidak berarti bahwa memiliki harta atau menjadi kaya merupakan sesuatu yang buruk. Kekayaan dapat digunakan untuk menghadirkan kebaikan dan membantu sesama, terutama ketika seseorang memiliki kesempatan, kekuasaan, maupun tanggung jawab sosial.
“Memiliki harta, berkuasa dan menjadi kaya itu baik; tetapi ‘melekatkan hati’ pada kekayaan dan bertindak tdk adil saat berkuasa itu berbahaya,” tegasnya.
Bahaya Ketika Manusia Merasa Tidak Membutuhkan Tuhan
Refleksi ini kemudian menyentuh sisi yang lebih dalam dari kehidupan manusia: bukan semata-mata berapa banyak harta yang dimiliki, melainkan kepada siapa hati manusia melekat.
Pastor Pius mengingatkan, ketika hati telah terlalu terikat pada kekayaan dan jabatan, seseorang dapat merasa sudah berada dalam keadaan nyaman dan berkecukupan. Pada titik itulah hubungan manusia dengan Tuhan berpotensi semakin jauh.
“Org yg hatinya telah melekat pada harta dan jabatan, terkadang telah merasa nyaman dan cukup dan tdk membutuhkan Tuhan lgi.”
Harta sebagai Sarana untuk Berbuat Baik
Pada akhirnya, kekayaan dan jabatan tidak semestinya menjadi tujuan akhir kehidupan. Keduanya justru dapat menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Karena itu, Pastor Pius menutup refleksinya dengan sebuah ajakan sederhana namun mendalam: “Berbuat baiklah dgn harta dan jabatanmu saat ini.”
Pesan tersebut merujuk pada Matius 19:23–30, yang mengajak umat merenungkan kembali hubungan manusia dengan kekayaan, pengorbanan, mengikuti Yesus, serta pengharapan akan kehidupan kekal.
Dalam perspektif iman Kristiani, harta dapat menjadi berkat ketika ditempatkan pada posisi yang benar. Namun ketika harta mengambil tempat Tuhan di dalam hati, kekayaan justru dapat berubah menjadi belenggu.
Karena itu, ukuran utama kehidupan bukanlah seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau seberapa besar kekuasaan yang dimiliki. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana semua yang dipercayakan Tuhan digunakan untuk kebaikan, keadilan, pelayanan, dan keselamatan.
Refleksi: Pastor Pius Heljanan, MSC
Editor: Johanis Kopong
