Pesan Pastoral dari UST Manila: Meneladani Kesederhanaan Santa Perawan Maria di Tengah Dinamika Zaman
MANILA | https://voicepost.id/wp – Selasa, 8 September 2026.
Gereja Katolik merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria sebagai momentum spiritual untuk merefleksikan kerendahan hati, ketaatan iman, serta peran umat dalam menjadi sarana kasih bagi sesama.
Pastor Mahasiswa Universitas Santo Tomas (UST) Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat, menyampaikan bahwa perayaan ini menegaskan pola ilahi di mana Allah senantiasa berkarya melalui hal-hal yang bersahaja dan tersembunyi. Hal tersebut disampaikan langsung dalam keterangannya di Central Seminary UST Manila, Filipina.
”Nabi Mikha menyapa Betlehem-Efrata sebagai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda. Sebuah tempat yang secara geografis maupun politis tidak diperhitungkan oleh dunia. Namun, tepat dari tempat yang diabaikan inilah, Allah memilih untuk melahirkan Sang Pemimpin yang menggembalakan umat-Nya. Begitu pula dengan Santa Perawan Maria; ia lahir di tengah keluarga yang bersahaja, tanpa kemegahan duniawi yang menyertainya,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.
Ia menambahkan, manusia kerap menilai seseorang berdasarkan takhta, kekayaan, popularitas, atau status sosial. Sebaliknya, pandangan ilahi melampaui tolok ukur manusiawi tersebut. Dalam kesederhanaan Maria, terdapat kelapangan hati yang siap menerima serta melaksanakan sabda Allah secara utuh.
Keberanian Beriman dan Penyertaan Allah
Mengutip Bacaan Injil Matius (Mat 1:1-16.18-23), RD. Domincs menyoroti bagaimana dinamika kelahiran Yesus melibatkan situasi yang secara manusiawi amat rumit bagi Santo Yusuf dan Santa Maria. Meski demikian, kepastian warta ilahi menegaskan kehadiran Immanuel, yang berarti “Allah beserta kita.”
”Ketaatan Maria dan keberanian Yusuf untuk mengambil peran masing-masing menjadi teladan iman yang amat bernilai. Mereka tidak menunggu seluruh jalan hidup mereka menjadi jelas dan tanpa risiko terlebih dahulu untuk mengatakan ‘ya’ kepada Allah. Mereka melangkah dalam iman karena percaya bahwa penyertaan Tuhan senantiasa cukup untuk menopang setiap keterbatasan manusiawi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa di tengah ketidakpastian, krisis, dan tantangan hidup modern, umat diajak untuk terus mempercayai penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya berjalan sendirian.
Menjadi Sarana Kasih bagi Sesama
Dalam tradisi Gereja, kelahiran Santa Perawan Maria kerap dilambangkan sebagai terbitnya fajar pagi yang menandai berakhirnya kegelapan malam serta menyambut kedatangan Sang Surya Keselamatan, Yesus Kristus.
RD. Domincs menjelaskan bahwa seluruh keberadaan Maria senantiasa diarahkan untuk mengagungkan Tuhan dan mengantarkan sesama kepada karya keselamatan. Umat beriman pun dipanggil untuk meneladani peran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
”Kita diutus untuk menjadi ‘fajar’ kecil—pembawa harapan, penghiburan, dan damai sejahtera—bagi orang-orang di sekitar kita yang sedang mengalami kegelapan hidup. Sekecil apa pun tindakan kasih yang kita lakukan dapat menjadi sarana nyata bagi sesama untuk merasakan hangatnya kasih Kristus,” pukasnya.
Rangkaian refleksi ini diakhiri dengan seruan doa bersama: “Santa Maria, penuh rahmat, doakanlah kami.”
Editor: joko
(Sumber: RD. Domincs Baldawins Masriat / UST Manila, Filipina)
