MANILA | https://voicepost.id/wp – Kamis, 3 September 2026
Menjala Jiwa di Tengah Gelombang Ambisi Duniawi
Di tengah dinamika zaman yang serba menekankan pencapaian teknis, kepintaran, dan gelar kehormatan, ada seruan halus namun mendalam tentang pentingnya kembali pada ketergantungan penuh kepada Ilahi. Pesan iman ini mengemuka dalam kerangka peringatan Peringatan Wajib Santo Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja, melalui refleksi liturgis yang disuarakan dari kawasan akademis bernilai sejarah di Asia Tenggara.
Bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina, pesan spiritual ini disampaikan langsung oleh Pastor Mahasiswa UST Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat. Dalam ulasan bacaan liturgi 1 Korintus 3:18-23 dan Injil Lukas 5:1-11, ia menggarisbawahi tantangan manusia modern yang kerap terjebak pada artikulasi kesombongan yang rapuh.
Mengikis Ego dan Gengsi Profesional
Menurut RD. Domincs, dunia masa kini cenderung mendidik individu untuk bertumpu sepenuhnya pada kalkulasi rasional dan pengalaman pribadi semata. Padahal, tanpa penyertaan rahmat Tuhan, segala potensi terbaik manusia sering kali berujung pada kekosongan.
”Dunia mengajarkan kita untuk selalu mengandalkan kepintaran, pengalaman, dan gelar diri sendiri. Namun, Kristus dan Rasul Paulus mengingatkan bahwa mengandalkan diri sendiri tanpa Allah adalah kesombongan yang rapuh,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.
Ia meneladani sikap Santo Petrus yang bersedia melepaskan gengsi profesionalnya sebagai nelayan senior, serta Santo Gregorius Agung yang menanggalkan kemegahan jabatannya sebagai Gubernur Roma. “Seperti Petrus yang melepaskan gengsi profesionalnya sebagai nelayan senior dan Santo Gregorius yang meninggalkan jabatan gubernur Roma, kita dipanggil untuk mengikis ego dan menyadari bahwa tanpa rahmat Tuhan, usaha terbaik kita sering kali berakhir seperti jala yang kosong,” tegasnya.
Ketaatan Radikal di Tengah Logika Dunia
Lebih lanjut, dinamika iman Katolik dinilai tidak hanya diuji ketika situasi hidup berjalan ideal atau menguntungkan. Keberanian untuk melangkah di saat-saat yang secara logis tidak masuk akal merupakan wujud nyata dari ketaatan sejati.
”Iman Katolik tidak hanya berjalan saat situasi masuk akal atau menguntungkan. Keberanian Petrus untuk ‘menerjunkan jala ke tempat yang dalam’ di siang hari—hanya meledak karena Yesus yang menyuruhnya—adalah bentuk ketaatan radikal,” tuturnya.
Pesan moral mendasar bagi publik, menurutnya, adalah komitmen untuk tetap konsisten melangkah atas perintah Ilahi dan ajaran moral Gereja, terutama saat roda kehidupan terasa berat atau berbenturan dengan perhitungan matematis duniawi.
Kepemimpinan yang Melayani (Servus Servorum Dei)
Satu poin krusial yang turut disoroti adalah reinterpretasi atas makna otoritas dan kedudukan. Kedudukan sosial, kekayaan, maupun jabatan hendaknya disadari bukan sebagai sarana untuk mendominasi, melainkan ruang untuk memperluas dedikasi pelayanan.
”Otoritas, bakat, kekayaan, dan jabatan yang kita miliki bukanlah sarana untuk menguasai orang lain, melainkan alat untuk melayani. Santo Gregorius Agung mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan kita, semakin besar kewajiban kita untuk merendahkan hati dan menjadi hamba bagi sesama,” jelas RD. Domincs.
Ia menekankan bahwa kehormatan seorang Kristiani terletak pada seberapa luas ia memberikan dampak positif dan melayani jiwa-jiwa dalam Kristus. Konsep kepemimpinan sejati berakar pada semangat Servus Servorum Dei—menjadi hamba dari para hamba Allah.
Mengubah Kelemahan Menjadi Keberkahan
Pada bagian akhir refleksinya, RD. Domincs mengajak umat untuk berani menyerahkan kemudi kehidupan secara utuh kepada Sang Pencipta. Ketika ambisi pribadi ditanggalkan, kelemahan manusiawi akan diubah menjadi sumber keberkahan yang berdampak bagi lingkungan sekitar.
”Ketika kita berani melepaskan ambisi duniawi dan mempercayakan kemudi hidup kita kepada Kristus, Ia tidak hanya mengubah kelemahan kita menjadi keberkahan, tetapi juga mengutus kita untuk menjadi ‘penjala manusia’—membawa terang, kasih, dan pengharapan bagi sesama di sekitar kita,” tutupnya seraya memanjatkan doa agar masyarakat senantiasa dianugerahi kerendahan hati dalam mengarungi keseharian.
Editor: joko
(Sumber: Keterangan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila – Filipina)
