Setelah hampir satu dekade meninggalkan Maluku Utara, Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya kembali menapaki tanah misi yang pernah membentuk perjalanan imamatnya. Kepulangannya menjadi ruang refleksi tentang iman, sejarah leluhur, dan harapan bagi generasi penerus.
http://voicepost.id.wp | Ternate, Maluku Utara | Jumat, 17 Juli 2026 -Tidak semua perjalanan pulang sekadar membawa seseorang kembali ke tempat asal. Ada kalanya, kepulangan menjadi perjalanan batin untuk menemukan kembali akar kehidupan, jejak para leluhur, dan panggilan iman yang selama bertahun-tahun membentuk arah pengabdian.
Begitulah yang dirasakan RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, ketika kembali menginjakkan kaki di Kota Ternate, Maluku Utara.
Hampir sembilan tahun setelah mengakhiri masa pelayanannya sebagai misionaris di wilayah tersebut, ia kembali bukan sekadar sebagai seorang imam, tetapi sebagai seorang anak adat yang menelusuri kembali jejak sejarah keluarganya.
Refleksi yang ditulisnya pada Jumat (17/7/2026) menggambarkan perjumpaan antara perjalanan iman, sejarah leluhur, dan dinamika pembangunan yang kini mewarnai Maluku Utara.
Sepuluh Tahun Menjadi Bagian dari Tanah Misi
Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, rentang waktu 2007 hingga 2017 merupakan babak penting dalam perjalanan imamatnya.
Selama satu dekade, ia melayani umat Katolik di berbagai wilayah Maluku Utara, sebuah daerah yang kala itu masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur dan tantangan pelayanan pastoral.
Namun justru di tengah keterbatasan itulah ia menemukan makna terdalam dari panggilan sebagai seorang imam.
“Selama sepuluh tahun (2007–2017), pelayanan saya bersama umat di sini adalah sebuah ziarah merajut kembali persaudaraan, merawat kawanan kecil yang tangguh, dan menabur benih harapan di sela-sela tantangan zaman,” tulis RD Ponsianus Ongirwalu.
Baginya, pelayanan bukan hanya tentang menjalankan tugas sakramental, melainkan belajar berjalan bersama umat, mendengarkan mereka, serta menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
“Setiap sakramen yang dilayani dan setiap senyuman umat adalah kekuatan yang meneguhkan imamat saya,” ungkapnya.
Maluku Utara yang Berubah, Iman yang Tetap Bertumbuh
Kembalinya RD Ponsianus ke Maluku Utara menghadirkan rasa syukur yang mendalam. Daerah yang dahulu dikenalnya kini telah mengalami perubahan yang signifikan.
Kemajuan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, hingga geliat pembangunan daerah terlihat nyata.
Namun, di balik perkembangan fisik tersebut, ada satu hal yang menurutnya jauh lebih membahagiakan. Ia menyaksikan iman umat tetap bertumbuh dan kehidupan persaudaraan antarkomunitas semakin dewasa.
“Maluku Utara di tahun 2026 telah mengalami perkembangan yang sangat luar biasa. Namun yang paling membuat hati saya bergetar sebagai seorang gembala adalah melihat bagaimana iman umat tetap kokoh dan persaudaraan lintas komunitas justru tumbuh semakin matang, inklusif, dan harmonis,” tuturnya.
Baginya, pembangunan sejati bukan hanya terlihat dari jalan yang semakin baik atau gedung-gedung yang berdiri megah, tetapi juga dari manusia yang tetap menjaga nilai kemanusiaan dan persaudaraan.
Menelusuri Jejak Leluhur dari Gamalama ke Tanimbar
Di balik kunjungannya ke Ternate, tersimpan perjalanan yang jauh lebih pribadi. Saat berdiri memandang Gunung Gamalama, pikirannya tidak hanya tertuju pada kenangan masa pelayanan, melainkan kepada sejarah panjang keluarganya.
Ia mengisahkan bahwa moyang keluarganya, Luturvitu atau Avitu, memulai perjalanan besar dari kawasan Ternate, Koa, dan Jailolo menuju Kepulauan Tanimbar. Migrasi tersebut kemudian melahirkan garis keturunan Marga Ongirwalu, yang kini disandangnya.
“Marga Ongirwalu yang saya sandang hari ini adalah buah dari keberanian pelayaran itu. Refleksi ini menyadarkan saya bahwa darah pelaut, darah pejuang, dan jiwa yang mencari kepenuhan hidup mengalir deras dalam diri saya,” tulisnya.
Perjalanan tersebut, menurutnya, bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan perjalanan iman yang diwariskan lintas generasi.
Imam dan Anak Adat: Dua Identitas yang Saling Menguatkan
Dalam refleksinya, RD Ponsianus menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melihat identitas sebagai imam dan anak adat sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Sebaliknya, kedua identitas itu justru saling melengkapi.
Sebagai anak adat, ia belajar menghormati leluhur, menjaga tanah kelahiran, dan merawat persaudaraan sebagai warisan budaya yang tidak boleh hilang.
Sedangkan sebagai imam Katolik, ia dipanggil untuk melayani tanpa membedakan latar belakang suku maupun daerah.
“Sebagai seorang Imam Katolik dan sekaligus Anak Adat, saya melihat dualitas identitas ini bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai anugerah yang saling menyempurnakan,” tegasnya.
Menurutnya, pengalaman melayani di Maluku Utara telah membuktikan bahwa tanah asal leluhur juga telah menjadi ladang pelayanan rohani yang memperkaya perjalanan hidupnya.
Pesan bagi Generasi Penerus
Menutup refleksinya, RD Ponsianus Ongirwalu menitipkan pesan kepada umat dan generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Ia mengajak generasi penerus untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan pembangunan dengan kekuatan spiritual serta nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.
“Jangan pernah melupakan akar sejarahmu. Rawatlah tanah tempat Tuhan menanammu, dan teruslah berlayar dengan berani seperti para leluhur kita, namun selalu bawalah Kristus di dalam perahu kehidupanmu,” pesannya.
Menurutnya, pembangunan fisik yang kini dinikmati Maluku Utara harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter, iman, dan persaudaraan.
Karena hanya dengan cara itulah kemajuan akan memiliki makna yang utuh bagi masyarakat. Esok hari, RD Ponsianus Ongirwalu akan kembali melanjutkan pelayanan menuju Ambon.
Namun sebagaimana ia tuliskan di penghujung refleksinya, sebagian hati dan doanya akan tetap tinggal di bawah kaki Gunung Gamalama, tanah misi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup, panggilan imamat, dan sejarah leluhurnya.
“Esok panji pelayanan akan berkibar di Ambon, namun sebongkah hati dan doa seorang Rd. Ponsio Ongirwalu akan selalu tertinggal di bawah kaki Gunung Gamalama, di atas tanah misi Kiarah.”(jk)
