Kerendahan Hati dan Panggilan Bertobat Seperti Anak Kecil
SAUMLAKI | https://voicepost.my.id – Kamis, 1 Oktober 2026. Di tengah deru kehidupan modern yang sering kali mengukur nilai seseorang dari kilau jabatan dan strata sosial, sebuah jeda perenungan menghadirkan panggilan mendalam untuk kembali pada kesederhanaan batin. Keheningan Desa Lauran membawa pesan sunyi namun tegas tentang hakikat sejati kemuliaan manusia di hadapan Tuhan.
Di sudut kawasan Tanimbar Selatan tersebut, suasana doa yang tenang menyelimuti lingkungan gereja. Langkah-langkah kaki umat yang hadir seolah diajak berhenti sejenak, melepas penat ego duniawi, dan merenungkan kembali arah perjalanan spiritual yang kerap tertutupi oleh keinginan untuk tampil menonjol.
Pastor Pius Heljanan, MSC, selaku Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku mengatakan bahwa kerendahan hati merupakan kunci utama bagi siapa saja yang merindukan kedamaian sejati dan kehidupan dalam Kerajaan Surga.
Simbol Kepolosan dan Ketulusan Batin
Mengulas perikop Kitab Suci Injil Matius, ia mengingatkan kembali peristiwa ketika para murid mempertanyakan siapa sosok terbesar dalam Kerajaan Surga. Jawaban yang dihadirkan bukanlah sosok penguasa atau bangsawan, melainkan kemurnian seorang anak kecil.
”Yesus hadirkan anak kecil sebagai simbol: kepolosan, kejujuran, ketulusan, kebergantungan, kesederhanaan. Yesus sebenarnya sementara menuntun kita menyadari sikap dan perilaku kita,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.
Refleksi tersebut menjadi cermin jernih bagi kehidupan sehari-hari. Sering kali manusia terjebak dalam godaan untuk memamerkan kehebatan, materi, hingga status sosial, sembari perlahan menumbuhkan benih kesombongan terhadap sesama.
Meneladani Kerendahan Hati di Bulan Rosario
Menjawab kecenderungan manusiawi tersebut, ajaran Injil justru menetapkan tolok ukur yang berseberangan dengan ambisi duniawi. Syarat utama untuk menyatu dengan Sang Pencipta terletak pada kesediaan untuk bertobat secara penuh, percaya tanpa syarat, serta mempraktikkan kasih secara tulus tanpa mengharapkan pujian.
”Orang yang rendah hati: melakukan hal-hal baik dengan cinta yang besar tanpa pamer diri,” pungkasnya.
Memasuki bulan Rosario yang penuh rahmat ini, umat diajak meneladani sikap pasrah dan kerendahan hati Bunda Maria. Melalui doa dan penyerahan diri yang murni, setiap pribadi diundang untuk menanggalkan jubah keangkuhan, kembali menjadi pribadi yang tulus, jujur, serta senantiasa mengandalkan Kasih Ilahi dalam setiap langkah hidup.(jk)
