Pastor Pius Heljanan MSC: Mengampuni, Jalan Menyembuhkan Luka Hati

Pastor Pius Heljanan MSC: Mengampuni, Jalan Menyembuhkan Luka Hati

Spread the love

voicepost.id⁠ | Lauran, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis, 13 Agustus 2026 – Pengampunan sering kali menjadi perkara paling sulit ketika hati telah terluka. Perkataan yang menyakitkan, perilaku yang mengecewakan, maupun tindakan sesama yang tidak terkendali dapat meninggalkan luka yang tidak mudah disembuhkan.

Dalam refleksinya, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, mengajak umat memandang pengampunan sebagai jalan iman untuk membebaskan hati dari dendam dan kemarahan.

Pastor Pius mengingatkan kembali ajaran Yesus tentang pentingnya mengampuni tanpa batas. “Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Pesan tersebut menegaskan bahwa pengampunan bukan sekadar tindakan sesaat, melainkan sikap hidup yang harus terus dihidupi oleh setiap orang beriman.

Dalam kehidupan manusia, luka batin dapat muncul dari relasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seseorang dapat terluka oleh ucapan, sikap, keputusan, atau perlakuan orang lain. Tidak jarang luka tersebut kemudian disimpan dalam waktu panjang hingga memengaruhi cara seseorang memandang sesamanya.

Menurut Pastor Pius, persoalan paling berat terkadang bukan menghadapi penderitaan atau pergumulan, melainkan keberanian untuk melepaskan dan menyembuhkan luka yang tersimpan di dalam hati.

“Hal paling sulit dalam hidup bukan penderitaan/pergumulan, tapi melepaskan dan menyembuhkan luka hati.”

Luka yang dibiarkan tanpa penyembuhan dapat mengubah hati. Kemarahan yang terus dipelihara dapat berkembang menjadi kebencian, sementara kebencian dapat menjauhkan seseorang dari kasih yang menjadi inti kehidupan Kristiani.

Pastor Pius mengingatkan, “Hati yang terluka cenderung berubah menjadi keras, dan hilang rasa kasih tulus.”

Karena itu, Yesus menawarkan pengampunan sebagai jalan untuk melembutkan hati. Pengampunan membutuhkan keberanian untuk melepaskan beban masa lalu dan memilih untuk tidak membiarkan dendam menentukan kehidupan seseorang.

Namun, mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan. Pengampunan tidak menghapus tanggung jawab seseorang atas perbuatannya.

Pengampunan justru menjadi keputusan untuk menghentikan siklus kemarahan dan dendam agar luka tidak terus menghasilkan luka baru.

Pastor Pius menegaskan, “Mengampuni sesama tidak berarti membenarkan kesalahan tapi memutuskan rantai dendam dan kemarahan dalam hati.”

Dalam kehidupan beriman, pengampunan juga memiliki hubungan erat dengan rahmat Allah. Seseorang yang terus menggenggam kebencian sesungguhnya sedang membatasi dirinya sendiri untuk mengalami kebebasan batin.

Pastor Pius mengingatkan, “Orang yang tidak mampu mengampuni sementara membelenggu diri dan menutup hatinya terhadap rahmat Tuhan.”

Pengampunan karena itu bukan bentuk kekalahan. Orang yang mengampuni tidak sedang menunjukkan bahwa dirinya lemah atau takut menghadapi kesalahan.

Sebaliknya, pengampunan membutuhkan kekuatan batin untuk memilih kasih ketika kemarahan sebenarnya masih memiliki alasan untuk bertahan.

“Orang yang tulus mengampuni bukan orang yang kalah, lemah dan takut, tapi orang hebat yang mau membebaskan diri dari belenggu keterlukaan hati,” demikian pesan Pastor Pius.

Dalam konteks kehidupan bersama, sikap mengampuni juga menjadi jalan menuju rekonsiliasi. Keluarga, komunitas, maupun lingkungan sosial membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan tanpa terus memelihara dendam.

Pengampunan tidak selalu berarti bahwa hubungan langsung kembali seperti sebelumnya. Ada situasi yang membutuhkan waktu, batas yang sehat, pertanggungjawaban, dan proses pemulihan.

Namun, hati tetap dapat memilih untuk tidak dikuasai oleh kebencian.
Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC, pada akhirnya mengajak umat melihat pengampunan sebagai bagian dari panggilan iman.

Mereka yang telah menerima belas kasih Tuhan dipanggil untuk menghadirkan belas kasih itu dalam kehidupan bersama..“Tuhan hanya mengampuni orang yang ikhlas mengampuni sesamanya.”

Pesan tersebut menjadi ajakan untuk memeriksa kembali hati masing-masing. Adakah luka yang masih disimpan? Adakah kemarahan yang belum dilepaskan? Adakah seseorang yang masih sulit diampuni?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk membuka kembali luka, melainkan untuk menemukan jalan menuju pemulihan. Sebab menyimpan dendam sering kali tidak menghukum orang yang melakukan kesalahan, tetapi justru memperpanjang penderitaan orang yang terluka.

Mengampuni berarti mengambil kembali kebebasan hati. Bukan melupakan apa yang terjadi, bukan pula membenarkan kesalahan, tetapi menolak membiarkan kesalahan masa lalu menguasai kehidupan hari ini.

Di sanalah pengampunan menemukan makna rohaninya: memutus rantai dendam, membuka ruang bagi kasih, dan memberikan kesempatan kepada rahmat Tuhan untuk bekerja dalam kehidupan manusia.

Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC, yang berangkat dari Injil Matius 18:21–19:1 tersebut mengingatkan bahwa kehidupan beriman tidak hanya berbicara tentang bagaimana manusia menerima pengampunan dari Tuhan, tetapi juga bagaimana ia belajar memberikan pengampunan kepada sesama.

Pada akhirnya, hati yang mengampuni bukanlah hati yang tidak pernah terluka. Hati yang mengampuni adalah hati yang pernah terluka, tetapi memilih untuk tidak tinggal selamanya dalam luka. (Editor: joko)
(Sumber: Refleksi Pastor Pius Heljanan, MSC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *