Refleksi Pesta St. Matius: Mengedepankan Belas Kasih dan Menolak Penghakiman Sosial

Refleksi Pesta St. Matius: Mengedepankan Belas Kasih dan Menolak Penghakiman Sosial

Spread the love

​

​RD. Domincs Baldawins Masriat: Misi Gereja Adalah Merangkul, Bukan Menghakimi Masa Lalu

​MANILA | https://voicepost.id/wp – Senin, 21 September 2026.

​Semangat perayaan Pesta Santo Matius, Rasul dan Penulis Injil, menjadi momen refleksi mendalam mengenai nilai belas kasih dan transformasi hidup. Pesan pastoral tersebut menggarisbawahi pentingnya keterbukaan hati dalam melihat potensi pembaruan hidup setiap pribadi tanpa terbelenggu oleh stigma masa lalu.

​Bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina, keterlibatan aktif dalam pembinaan rohani mahasiswa diwujudkan melalui permenungan liturgis yang relevan dengan dinamika kehidupan sosial modern. Keterangan ini disampaikan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat sebagai Pastor Mahasiswa di UST Manila – Filipina.

​Transformasi Diri dan Penolakan Stigma

​Dalam permenungan berbasis Injil Matius bab 9 ayat 9 hingga 13, ditunjukkan bagaimana sosok Matius yang dahulu merupakan pemungut cukai—kelompok yang kerap diasingkan dan dicap sebagai pendosa besar—mendapat penerimaan penuh tanpa syarat. Yesus tidak memandang masa lalu Matius, melainkan melihat potensi besar di dalam dirinya untuk menjadi pembawa pembaruan.

​RD. Domincs Baldawins Masriat menegaskan pentingnya memberikan ruang bagi setiap insan untuk mengalami pembaruan diri melalui pesan pastoraknya:

​”Jangan pernah mengecap atau membatasi seseorang berdasarkan kesalahan masa lalunya. Ingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertobat.”

​Hadir di Tengah Kesibukan Harian

​Panggilan untuk berbuat baik dan mendengarkan sapaan Ilahi sering kali tidak hadir dalam peristiwa besar semata, melainkan dalam rutinitas dan tugas harian. Setiap individu diimbau untuk senantiasa peka terhadap tanggung jawab moral di lingkungan kerja maupun interaksi sehari-hari.

​Sapaan spiritual tersebut menjadi pengingat bahwa dedikasi profesional dan pelayanan sosial dapat berjalan seiring dalam membangun peradaban yang berlandaskan kasih.

​Misi Pelayanan berbasis Belas Kasih

​Menjelaskan teguran kritis terhadap sikap menghakimi, permenungan ini mengutip firman yang mengingatkan bahwa orang sehat tidak memerlukan tabib, melainkan orang yang sedang sakit. Hal ini menggarisbawahi bahwa persembahan ritual tidak ada artinya tanpa diimbangi oleh rasa empati dan belas kasihan nyata terhadap sesama.

​”Gereja dan umat Katolik dipanggil untuk menjadi tempat penyembuhan, perjumpaan, dan perangkulan, bukan ruang pengasingan. Misi kita adalah belas kasih dan bukan penghakiman,” ungkap RD. Domincs Baldawins Masriat.

​Melalui pesan pastoral ini, seluruh elemen masyarakat diimbau untuk terus membawa kedamaian, menjadi agen penyembuh sosial, serta menjauhkan diri dari prasangka buruk demi terciptanya tatanan kehidupan yang lebih harmonis.

​(Editor: joko)

(Sumber: Central Seminary UST Manila, Filipina / RD. Domincs Baldawins Masriat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *